Selayang Pandang Bank Sampah Mandiri

212

Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Kabupaten Sragen bertekad untuk mengurangi jumlah sampah terutama sampah yang dihasilkan dalam rumah tangga para Aparatur Sipil Negara di lingkungan Dinas PU Kabupaten Sragen.

Salah satu program yang dicanangkan dalam rangka keberhasilan mengurangi sampah adalah dengan mendirikan Bank Sampah yang diberi nama Bank Sampah Mandiri.

Bank Sampah Mandiri merupakan pioner di lingkungan Pemerintah Daerah Kabupaten Sragen. Dengan adanya Bank sampah itu maka diharapkan akan ada pengurangan sampah terutama dari para anggota yang merupakan ASN di lingkungan DPUPR Kabupaten Sragen.

Bank Sampah itu sendiri telah diresmikan keberadaannya oleh Ibu Bupati Sragen dr. Kusdinar Untung Yuni Sukowati pada Hari Jumat (13/9/2019). Pada kesempatan tersebut Bupati didampingi oleh Wakil Bupati Dedy Endriyatno dan Sekda Bapak Drs. Tatag Prabawanto B, MM serta beberapa Kepala Dinas di lingkungan Pemkab Sragen. Dalam sambutannya Ibu Bupati mengatakan menyambut baik dan apresiasi yang tinggi kepada Dinas PUPR yang telah menjadi pioner bagi Satker lain di Kabupaten Sragen untuk mengurangi sampah agar bisa menjadi nilai jual untuk para anggota atau nasabahnya melalui Bank Sampah.

Hari ini luar biasa, tolong temen-temen dinas untuk dicontoh, kita mulai menjadi anggota dulu kita hidupkan DPU terlebih dahulu, baru kita membuat di masing-masing dinas," jelas Bupati

Menurut Bupati, Bank Sampah pertama pemkab Sragen ini bisa menjadi contoh semua dinas dan juga bisa menjadi inkubator warga masyarakat Kabupaten Sragen.

"Saya minta kepada teman-teman untuk memulai dari diri sendiri kita kelola bersama, lalu mengajak ke kampung masing-masing untuk membuat dan menabung di bank sampah. Ajak-ajak itu penting," lanjut Bupati.

Ia berharap Bank Sampah Mandiri DPUPR bisa menjadi pionir berdirinya bank sampah di kantor organisasi perangkat daerah (OPD) lain dan di lingkungan masyarakat.

“Harapannya kalau di semua dinas sudah ada bank sampah seperti ini, maka untuk mengajak masyarakat nanti lebih mudah karena sudah ada contohnya. Nanti akan kami terbitkan surat edaran supaya masing-masing dinas dan perumahan yang cukup besar diimbau untuk memiliki bank sampah,” tutup Bupati.

Bank Sampah yang dikelola oleh DPUPR Kabupaten Sragen juga telah mempunyai mitra dari masyarakat dan juga dari Satker lain di Kabupaten Sragen antara lain adalah Inspektorat, kecamatan kecamatan di Kabupaten Sragen.

Sampah yang dikelola Bank Sampah Mandiri berjenis kardus, kertas, botol mineral, koran, besi dan sampah lainnya.
Alur dari layanan bank sampah ini sebagai berikut :
  1. Nasabah atau anggota datang dengan membawa buku tabungan dan sampah yang sudah dipilah dari rumah.
  2. Petugas mencatat jenis sampah yang dibawa nasabah.
  3. Sampah ditimbang sesuai dengan jenisnya.
  4. Nasabah menyerahkan buku tabungan kepada bendahara supaya transaksi tercatat di buku besar.
  5. Nasabah pulang dengan membawa buku tabungan yang sudah terisi daftar nominal uang dan berat sampah yang dikirim
Meski baru sebulan beroperasi, Bank Sampah Mandiri yang dikelola pegawai DPUPR Sragen ini sudah mampu menghasilkan pendapatan senilai Rp 3,9 juta. Dana tersebut dihasilkan dari penjualan sampah dengan bobot 1,5 ton selama Bulan Agustus.
JAKARTA, KOMPAS.com — Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) bertekad mengurangi jumlah sampah nasional melalui program bank sampah. Direktur Jenderal Pengelolaan Limbah, Sampah, dan Bahan Beracun Berbahaya (PSLB3) KLHK Rosa Vivien Ratnawati mengatakan, perkembangan program bank sampah di seluruh Indonesia meningkat dalam kurun waktu tiga tahun terakhir. "Pada tahun 2015, jumlah bank sampah di Indonesia sebanyak 1.172 unit dan tahun 2017 jumlah bank sampah di Indonesia mencapai 5.244 unit yang tersebar di 34 provinsi dan 219 kabupaten/kota di Indonesia," kata Vivien di Grand Mercure Kemayoran, Jakarta Pusat, Senin (3/12/2018). Baca juga: Rumah di Bantaran Kali Gendong Persulit Petugas Membersihkan Sampah Vivien menjelaskan, program bank sampah adalah program yang mengajak masyarakat untuk memilah sampah organik dan non-organik untuk ditukarkan menggunakan uang pada bank-bank sampah yang telah tersebar di 34 provinsi di Indonesia. Namun, ada juga bank sampah yang menerapkan penukaran sampah untuk pembayaran listrik, pembelian sembako, pembayaran biaya kesehatan, dan mendapatkan emas. "Program bank sampah itu bisa mengubah paradigma masyarakat untuk memaknai sampah sebagai sesuatu yang mempunyai nilai untuk dimanfaatkan kembali sekaligus mengurangi jumlah sampah nasional," kata Vivien. Baca juga: Rumah di Bantaran Kali Gendong Persulit Petugas Membersihkan Sampah Pada bank sampah, sampah organik akan didaur ulang menjadi kompos. Sementara sampah non-organik akan diolah kembali agar bisa bermanfaat secara ekonomis. Vivien menyebut, ada salah satu contoh bank sampah yang menghasilkan omzet mencapai Rp 4,5 miliar per tahun dari pengolahan sampah. Bank sampah itu berada di Jakarta Barat. "(Omset Rp 4,5 miliar) itu merupakan angka yang fantastis yang didapat dari pengelolaan sampah yang berasal dari masyarakat," kata Vivien. "Diharapkan, ke depan keberadaan bank sampah bisa memberikan solusi terbaik dalam pencapaian target pengurangan sampah. Saya mengajak kepada seluruh pemerintah daerah untuk mendorong menciptakan program-program berbasis bank sampah," lanjut dia.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Belajar dari Bank Sampah dan Pengolahan Sampah Beromzet Rp 4,5 Miliar", https://megapolitan.kompas.com/read/2018/12/03/13095821/belajar-dari-bank-sampah-dan-pengolahan-sampah-beromzet-rp-45-miliar.
Penulis : Rindi Nuris Velarosdela
Editor : Andri Donnal Putera
JAKARTA, KOMPAS.com — Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) bertekad mengurangi jumlah sampah nasional melalui program bank sampah. Direktur Jenderal Pengelolaan Limbah, Sampah, dan Bahan Beracun Berbahaya (PSLB3) KLHK Rosa Vivien Ratnawati mengatakan, perkembangan program bank sampah di seluruh Indonesia meningkat dalam kurun waktu tiga tahun terakhir. "Pada tahun 2015, jumlah bank sampah di Indonesia sebanyak 1.172 unit dan tahun 2017 jumlah bank sampah di Indonesia mencapai 5.244 unit yang tersebar di 34 provinsi dan 219 kabupaten/kota di Indonesia," kata Vivien di Grand Mercure Kemayoran, Jakarta Pusat, Senin (3/12/2018). Baca juga: Rumah di Bantaran Kali Gendong Persulit Petugas Membersihkan Sampah Vivien menjelaskan, program bank sampah adalah program yang mengajak masyarakat untuk memilah sampah organik dan non-organik untuk ditukarkan menggunakan uang pada bank-bank sampah yang telah tersebar di 34 provinsi di Indonesia. Namun, ada juga bank sampah yang menerapkan penukaran sampah untuk pembayaran listrik, pembelian sembako, pembayaran biaya kesehatan, dan mendapatkan emas. "Program bank sampah itu bisa mengubah paradigma masyarakat untuk memaknai sampah sebagai sesuatu yang mempunyai nilai untuk dimanfaatkan kembali sekaligus mengurangi jumlah sampah nasional," kata Vivien. Baca juga: Rumah di Bantaran Kali Gendong Persulit Petugas Membersihkan Sampah Pada bank sampah, sampah organik akan didaur ulang menjadi kompos. Sementara sampah non-organik akan diolah kembali agar bisa bermanfaat secara ekonomis. Vivien menyebut, ada salah satu contoh bank sampah yang menghasilkan omzet mencapai Rp 4,5 miliar per tahun dari pengolahan sampah. Bank sampah itu berada di Jakarta Barat. "(Omset Rp 4,5 miliar) itu merupakan angka yang fantastis yang didapat dari pengelolaan sampah yang berasal dari masyarakat," kata Vivien. "Diharapkan, ke depan keberadaan bank sampah bisa memberikan solusi terbaik dalam pencapaian target pengurangan sampah. Saya mengajak kepada seluruh pemerintah daerah untuk mendorong menciptakan program-program berbasis bank sampah," lanjut dia.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Belajar dari Bank Sampah dan Pengolahan Sampah Beromzet Rp 4,5 Miliar", https://megapolitan.kompas.com/read/2018/12/03/13095821/belajar-dari-bank-sampah-dan-pengolahan-sampah-beromzet-rp-45-miliar.
Penulis : Rindi Nuris Velarosdela
Editor : Andri Donnal Putera

Create Account



Log In Your Account